Senin, 27 Juli 2009

HONDA TIGER REVO 2008 (MAGETAN)




Aris Yudha Budi Istiawan sudah lama menunggu kedatangan Honda VTR 250 yang menurut gosip bakal dijual pabrikan lokal. Enggak sabar nunggu akhirnya Honda Tiger Revo miliknya jadi korban.

Untungnya ada Abdul Aziz dari rumah modifikasi A1 Modified yang merealisasikan mimpinya punya Honda VTR. "Tenang pasti beres dan tampilan Tiger Revo berbeda dalam satu bulan,"ujar modifikator beralamat di Jl. Diponegoro, No.19, Selosari, Magetan.

Menurut Abdul Aziz, konsep Honda VTR 250 memang sangat cihuy! Naked bike yang desainnya benar-benar besutan turing. Cocok banget bila ubahan basicnya pakai Honda Tiger. “Tinggal kaki-kaki dipasang copotan limbah moge,” jelasnya.

Sedang buat bodi, ubahannya nggak terlalu sulit lantaran asalnya sama-sama motor telanjang. “Tangki asli Tiger didesain seperti VTR 250 ,” jelas Mas Dul sapaan akrabnya yang menambah lubang ventilasi di kedua sisi tangki agar aliran angin menuju ke mesin.

Untuk bodi belakang, konsepnya juga sama dengan buntut VTR. Tidak lancip melainkan membulat, untuk mencetaknya pakai bahan fiberglass. “Aku lagi jomblo, makanya jok dibikin single seater aja,” kekeh Yudha yang kabarnya baru ditinggal pergi kekasihnya ini.
Biar selaras dengan konsep VTR, pastinya di tambah rangka tubular. Mas Dul membuatnya dari bahan pipa besi. Hasilnya meskipun rangka cuma tempelan, motor ini jadi terlihat kokoh dan berotot.

Makin sip dan mirip VTR, Yudha berinisiatif untuk instal radiator milik Aprilia 125. “Memang nggak fungsi tapi bikin tampilan motor makin oke,” ungkap salah satu anggota Paskhas TNI AU yang bertugas di Lanud Iswahyudi, Madiun ini.

Kalau diamati ada sedikit perbedaan antara VTR dan Tiger Revo milik Yudha ini. Desain VTR dari pabriknya tak dilengkapi fairing bawah mesin. “Aku tambah di bawah mesin biar kelihatan lebih berisi,” tutup lajang yang mendambakan pasangan ini.

Kontak Batin lewat Honda Tiger dan Mega Pro

Wardoyo dan Suswanto ini, saudara bukan dan tinggalnya pun berjauhan. Satu di kotif Depok dan satunya lagi di Purwokerto, Jateng. Namun keduanya melakukan kontak batin melalui modifikasi pada motor mereka yang sama-sama Honda. Keduanya mengusung rancangan model bungkuk dan material yang dipakai pun ada yang sama pula.

Untuk mengubah Honda Mega Pronya, Wardoyo dari Dave Motor Concept (DMC) mencontoh ide dari Honda CBR1000, Sedang Wardoyo dengan Billy Custom terinspirasi Suzuki B-King untuk menyulap Honda Tiger hijaunya.

Selain sama-sama mengkonsep model bungkuk, ternyata Wardoyo dan Wanto punya kesehatian dalam penggunaan bahan material, yakni pelat galvanis sebagai bahan bodi. Menurut Wanto, buayanya lebih murah dibandingkan dengan fiberglass.

Masih ada lagi. Kesamaan mereka tampak pada ubahan monosok yang sama-sama pakai Suzuki Satria 120. Dilanjutkan lagi dengan lampu depan, meski materialnya beda namun desain covernya bagaikan anak kembar. Bila Wardoyo lebih memilih lampu Supra, Wanto menjatuhkan pilihannya pada Vario.

Untuk urusan kaki-kaki, kali ini keduanya beda selera. Wardoyo kepincut dengan Sprint, sementara Wanto jatuh cinta sama Storm.(Andika, Nurfil)

DATA MODIFIKASI
HONDA TIGER 2000 1998
Ban depan : Swallow 110/70-18
Ban belakang : Swallow 130/70-18
Knalpot : Custom
Lampu depan : Honda Supra
Lampu belakang : Suzuki Spin 125
Rem belakang : Suzuki Satrai 120

HONDA MEGA PRO 2002
Ban depan : Blackstone 100/80-17
Ban belakang : Swallow 130/70-17
Lampu depan : Vario
Lampu belakang : Honda Grand
Knalpot : Handmade

Senin, 20 Juli 2009

Honda Mega Pro ''Bight Funky''

Bight Funky
Wajah sport funky kota reog, ini lho kepunyaan Alif Wahyu Dwianto. “Aliran mothai paling pas,” ucap penghobi modif ini.

Wajah sport funky kota reog, ini lho kepunyaan Alif Wahyu Dwianto. “Aliran mothai paling pas,” ucap penghobi modif ini. Warna-warna cerah tentu jadi identitas utama aliran funky yang anti dikembarin. Kelir biru bertabur butiran gliter silver disembur dari ujung sepatbor depan hingga buritan. Kelir biru tua yang dibikin mirip anodised lalu dipoles di rangka, blok mesin, sampai master rem dan segitiga atas bawah.Wajahnya langsung fresh.

Buat pembedanya, komponen besi semuanya dikrom. Seperti batang sok, kalter mesin, footstep dan lengan ayun. Sontak kelir dasar makin menonjol dan keliatan resik. Penggantian ikut dilakoni buat menunjang performa keseluruhan. Peleknya diganti Rossi ukuran lebar ditemani selingkar tromol n cakram Ninja. Bagian depan ini rombakannya agar seimbang dengan belakang, soknya diturunin 10cm. Jadinya stang ikut ditinggikan dengan mengganti raiser dudukan stang variasi.

Kesan mothai diwakili sisi belakang. Lengan ayun kotak merk Supertrack ini dipasang dengan memajukan tromol belakang. Penahan sok upside down WP Fushion dan ban ceking Swallow 70/80x17 sudah cukup membuat sektor kaki belakang keliatan melompong cungkring. Gini ini pas dibilang funky mothai look.
n neo.

HMPC Makasar


Bunglon


MODIFIKASI motor sudah menjadi tren bagi para penggila motoris. Tak tanggung-tanggung banyak orang yang rela mengeluarkan kocek yang besar sekedar untuk memodifikasi motor agar terlihat lebih yahud. Bergaya standar sudah pasti bikin boring. Apalagi kalau motor itu terklasifikasi motor sport alias motornya kaum cowok.
Rasa itulah yang membuat Deaunu Perwira atau lebih ngetrend di panggil Dinnu berinisiatif untuk merombak Suzuki Thunder 125 full orisinil yang hampir setahun kebelakang menjadi tunggangannya.
“Bosan juga sih liat tampang motor gitu-gitu aja. Jadi apa salahnya di modif aja biar tampangnya lebih keren lagi dan tidak bosan,” ujar Dinnu. Dalam benak Dinnu, Thunder yang sejatinya bertipe motor sport mudah untuk dimodifikasi. Dengan gaya motor gede atau keren disebut Moge membuat si pemilik terlihat gagah.
Biar lebih terlihat sangar, Dinnu memasang velg Grimeka 17 inci dipadukan dengan ban pirelli MTR02 Dragon berukuran 160/60. Tapi, skenario awal yang coba ditunjukin, gak langsung nyemplak bisa dipasang. Velg grimeka bawaan Honda NSR jelas beda dengan Suzuki yang gak mungkin bisa gitu aja langsung klop.
”Setelah saya dapat gak langsung bisa dipasang. Butuh waktu dua hari bikin adaptor baru buat seporket belakang yang mentok. Daripada gak jadi, terpaksa saya bikin ke tukang bubut,” jelasnya.
Setelah kaki-kaki kelar, sekujur tubuh si Thunder dipolesi cat produk Sikken berwarna merah bata. “biar terlihat lebih garang,” pungkasnya. ***
Swing Arm bergaya aprilia
Untuk menyesuaikan velg lebar grimika, swing arm estede dilengserkan diganti swing arm model aprilia yang dibuat handmade.*
Mesin kohar
Mesin dikorek harian dengan menghaluskan lubang isap dan buang serta memapas silinder head. Karbu ori dilengserkan dan diganti karbu bawaan Kawasaki Ninja untuk menunjang kaki-kaki yang berotot.*
Data modifikasi :
Engine guard – custom
Lampu blkang – F1Z R
Karburator - Ninja
Kaliper belakang – Brembo
Baut body – setainless kunci L
Velk – Grimeka
Ban depan – 90/80 Battlax
Ban blkang – 160/60Pirelli MTR02 dragon

Senin, 15 Juni 2009

Kerajaan Bukit Batu Patah

Kerajaan Bukit Batu Patah didirikan oleh seseorang Datuk yang bertapa di Bukit Patah. Ini masih ada hubungan keluarga dengan. Yang Dipertuan Bungo Satangkai. Nama Datuk ini adalah Sutan Nun Alam. Di Bukit Batu Patah ini sampai sekarang masih terdapat Luak Nan Tigo, tempat bertapa dilereng Gunung Bungsu di belakang istana Pagaruyung sekarang, Pada masa kerajaan Bukit Batu Patah ini Luak Nan Tigo sudah dapat disatukan dalam masalah adat dan pemerintahan. Sudah dibentuk Rajo Nan Duo Selo dan Basa Ampek Balai.
Rajo Duo Selo tersebut adalah Rajo Alam yang berkedudukan di Bukit Batu Patah dan Rajo Adat berkedudukan di Bungo Satangkai.
Basa Ampek Balai adalah :
1. Dt. Bandaro Putieh sebagai pemuncak di Sungai Tarab.
2. Indomo di Saruaso sebagai Payung Panji
3. Makhudum di Sumanik sebagai Aluang Bunian
4. Tuan Gadang di Batipuh sebagai Harimau Campo.

Yang dipertuan Nun Alam digantikan oleh Run Pitualo dan menurut riawayatnya tidak lama pula memerintah di Bukit Batu Patah. Raja Ketiga adalah Maharajo Indo dan semasa pemerintahannya pusat kerajaannya dipindahkannya ke kakibUkit Batu Patah atau di daerah nagari pagaruyung sekarang. Semasa pemerintahan Maharajo Indo Agama Islam sudah masuk ke Minangkabau dari daerah Minangkabau timur.
Maharajo Indo kemudian digantikan oleh Yang Dipertuan Sati. Semasa pemerintahannya Rajo Nan Duo Selo dilengkapi menjadi Rajo Nan Tigo Selo dan Basa Ampek Balai dengan ada perubahan setelah masuk agama Islam. Rajo Alam bersemayam di Balai Gudam, Rajo Ibadat bersemayam di Balai Bungo dan Rajo Adat bersemayam di Balai Janggo.
Basa Ampek Balai adalah :
1. Titah di Sungai Tarab sebagai pamuncak yang berfungsi sebagai Menteri Dalam Negeri.
2. Makhudum di Sumanik sebagai Aluang Bunian atau Menteri Keuangan.
3. Indomo di Saruaso sebagai Payung Panji atau Menteri Kesejahteraan.
4. Tuan Kadi di Padang Ganting sebagai suluh bendang yang berfungsi sebagai Menteri Agama dan Penerangan.


Sedangkan Tuan Gadang di Batipuh sebagai penanggung jawab di bidang keamanan.

Kerajaan Dusun Tuo dan Bungo Satangkai.

Setelah Kerajaan Pasumayam Koto Baru berakhir dengan Rajanya Sri Maharajo Dirajo yang kemudian digantikan oleh Dauk Suri dirajo Maka selanjutnya muncul 2 orang pemimpin yang bernama Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang. Sebagaimana dikatakan sebelumnya kedua orang tokoh ini seibu berlainan Bapak.
Datuk Katumanggungan mendirikan Kerajaan Bungo Satangkai di Sungai Tarab dan sebagai yang dipertuan adalah Datuk Banadaro Putieh. Sedangkan datuk Perpatih Nan Sabatang meninggalkan Nagari Pariangan Padang Panjang dan mendirikan Nagari V Kaum XII Koto dan IX Koto di Dalam. Didaerah ini yang berdaulat Datuk Perpatih Nan Sabatang sedangkan pemerintahan sehari-hari dilaksanakan oleh Dt, Bandaro Kuning. Yang termasuk Kerajaan Dusun Tuo adalah daerah yang termasuk Lareh Bodi Chaniago adalah Tanjung Nan Tigo dan Lubuak Nan Tigo. Sedangkan Kerjaan Bungo Satangkai meliputi Langgam Nan Tujuh.
Semasa Kerajaan Dusun Tuo dan Bungo Satangkai diadakan perubahan Undang-undang di Mumbang jatuah di rubah dengan undang-undang Si Lamo-lamo intinya adalah bahwa sesuatu keputusan yang akan diambil diperhitungkan terlebih dahulu masak-masak, melarat dan memanfaatkannya. Hukuman yang telah dijatuhkan belum dapat dilaksanakan tetapi harus diberi Tenggang Waktu lebih dahulu agar hukuman itu benar-benar menghukum orang yang bersalah.
Yang melaksanakan Undang-undang Si Lamo-lamo adalah Kerajaan Dusun Tuo di bawah pimpinan Dt. Perpatih Nan Sabatang, sedangkan Kerajaan Bungo Setangkai di Bawah pimpinann Dt.Katumanggungan tetap bertahan dengan undang-undang si Mumbang Jatuh. Akhirnya kedua tokoh ini terjadi perselisihan. Perselisihan ini akhirnya diadakan perdamaian dan ikrar bersama ditandai dengan Batu Batikam. Isi perdamaian bahwa Undang-undang Silamo-lamo berlaku bagi seluruh Minangkabau dan Adat Bodi Chaniago dan Koto Piliang sama-sama berlaku bagi seluruh rakyat Minangkabau.
Selanjutnya terjadi pula perubahan yaitu Undang-undang si Lamo-lamo diganti dengan Undang-undang Tariek Baleh. Sebagai contoh Undang-undang Tariek Baleh ini adalah:

Salah tariek mangumbalikan
Salah cotok malantiengkan
Salah makan mamuntahkan

Artinya kesalahan yang diperbuat seseorang dapat diuperbaikinya kembali sebelum hukuman dijatuhkan kepadanya.
Akhirnya Undang-undang Tariek Baleh ini terjadi lagi perubahan yaitu Undang-undang Duo Puluah yang diberlakukan di seluruh Minangkabau baik di Lareh Koto Piliang dan Bodi Chaniago yang mana sampai sekarang masih berfungsi sebagai Hukum Adat di Nagari-nagari pada saat sekarang.
Yang dapat kita ambil kesimpulan adalah bahwa semasa Dt. Katumanggungan dan Dt, Perpatih Nan Sabtang betul-betul telah mereka susun adat Minangkabau yang nenjadi pegangan bagi orang Minangkabau sejak dahulu sampai sekarang. Tidak mengherankan kalau nama Dt. Katumanggungan dan Dt. Perpatih Nan Sabatang tidak dapat dilupakan oleh orang Minangkabau sepanjang masa.